El Nino Datang, Gabah Melayang dan Inflasi

3 menit membaca View : 118
Erwin Abdullah
Analisis - 22 Apr 2026

TITIKNOL BIZ – Fenomena El Nino kini tak sekadar wacana ataupun sekedar alarm peringatan dini.

Di lapangan, dampaknya sudah mulai terasa nyata.

Kekeringan di sejumlah sentra produksi telah menekan hasil panen, memperkecil pasokan gabah, dan secara perlahan mengganggu keseimbangan pangan di daerah.

Dalam situasi seperti ini, hukum ekonomi bekerja sederhana namun tegas. Ketika pasokan menurun sementara kebutuhan tetap, harga pasti akan naik.

Apa yang terjadi hari ini mencerminkan kondisi tersebut.

Harga gabah per hari ini ditingkat pedagang gabah telah tembus diangka Rp7.500 per kilogramnya.

Jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang berada di kisaran Rp6.500.

Kenaikan ini bukan lagi angka-angka, tetapi sinyal kuat bahwa pasar sedang berada dalam tekanan.

Namun persoalan tidak berhenti pada kenaikan harga.

Di tengah kondisi produksi yang menurun, terjadi fenomena lain yang tak kalah krusial.

Arus keluar gabah dari daerah ini secara masif menuju sentra-sentra penggilingan di kabupaten lain.

Gabah sebagai bahan baku utama justru lebih cepat mengalir ke luar wilayah.

Mengikuti daya tarik harga dari daerah lain yang memiliki kapasitas serapan lebih besar

Akibatnya, daerah penghasil menghadapi paradoks.

Memiliki produksi, tetapi kehilangan kendali atas hasil produksinya sendiri.

Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa intervensi, dampaknya akan berlapis.

Penggilingan lokal akan kesulitan mendapatkan bahan baku.

Produksi beras dalam daerah akan menurun. Pada akhirnya, harga beras akan terdorong melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET), dan inflasi menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Perlu dipahami, dalam situasi normal, pergerakan antar daerah adalah bagian dari mekanisme pasar yang sehat.

Namun dalam kondisi tekanan iklim seperti El Nino, mekanisme tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas dalam daerah.

Sayangnya, pendekatan yang terlihat saat ini masih cenderung berfokus pada aspek produksi semata.

Penyuluhan, peningkatan tanam, dan berbagai program teknis tetap berjalan, namun belum diiringi dengan perhatian yang memadai terhadap pengelolaan stok dan distribusi.

Padahal, dalam situasi krisis pasokan, menjaga apa yang sudah diproduksi sama pentingnya dengan meningkatkan produksi itu sendiri.

Pemerintah daerah memiliki peran strategis untuk memastikan keseimbangan tersebut.

Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan.

Seperti monitoring arus keluar masuk gabah secara lebih aktif.

Penguatan serapan gabah oleh pelaku usaha lokal
Pemberian insentif agar gabah tetap diolah di dalam daerah.

Koordinasi lintas OPD dalam menjaga stabilitas pasokan.

Langkah-langkah ini bukan untuk membatasi pasar, tetapi untuk memastikan bahwa dalam kondisi tekanan, daerah tidak kehilangan kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Pemimpin kabupaten tidak hanya bertindak sebagai penyuluh yang memastikan produksi tetap baik ditengah bencana ElNino.

Tetapi juga mampu menjalankan peran sebagai manajer stok pangan di daerahnya sendiri

El Nino adalah ujian, bukan hanya bagi petani, tetapi juga bagi tata kelola pangan daerah.

Pada akhirnya, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kita menanam.

Namun seberapa bijak kita menjaga hasil panen tetap memberi manfaat bagi masyarakat di wilayahnya sendiri.

Jika tidak, kita akan terus berada dalam siklus yang sama.

Panen di tanah sendiri, tetapi membeli kembali dengan harga lebih mahal dari daerah lain. ***

Tim Penyusun

Avatar photo
Tim Redaksi
Redaktur Pelaksana
Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS