TRENDING

Panen Gabah di Sini, Untung Besar di Luar

2 menit membaca View : 126
Erwin Abdullah
Analisis - 03 Apr 2026

Setiap musim panen, satu hal selalu berulang. Gabah mengalir keluar daerah dalam jumlah besar.

Harga bergerak naik di atas HPP yang ditetapkan pemerintah, pembeli dari luar kota berdatangan, dan semua terlihat baik-baik saja.

Tapi pertanyaannya sederhana. Apakah daerah ini benar-benar diuntungkan, atau hanya sekadar jadi tempat produksi?

Petani memang menerima harga yang lebih baik. Itu fakta. Namun setelah gabah meninggalkan daerah ini, proses berikutnya—pengeringan, penggilingan, hingga menjadi beras—terjadi di tempat lain.

Artinya, nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar.

Kita sering bangga disebut sebagai daerah dengan jumlah sawah yang luas dan hasil panen yang melimpah setiap tahunnya.

Tapi tanpa penguatan pengolahan di dalam daerah, kita sebenarnya hanya menjadi pemasok bahan mentah.

Lebih jauh lagi, ada risiko yang jarang dibahas.

Ketika penggilingan lokal perlahan melemah karena kekurangan bahan baku, kita sedang kehilangan fondasi ekonomi lokal kita sendiri.

Lapangan kerja akan berkurang di sektor pengolahan gabah, mulai dari buruh angkut, buruh jemur, hingga operator pabrik yang 100% adalah orang desa atau lokal.

Perputaran uang di desa juga akan menyempit seiring berkurangnya pemrosesan nilai tambah dari gabah menjadi beras. Dan pada akhirnya ketergantungan terhadap pemain luar akan semakin besar.

Ironisnya, semua ini terjadi tanpa paksaan. Pasar berjalan, transaksi terjadi, dan secara aturan—semuanya sah.

Justru di sinilah letak persoalannya.

Jika tidak ada intervensi kebijakan yang memperkuat sisi dalam daerah, maka mekanisme pasar yang ada secara perlahan akan memindahkan pusat nilai ekonomi keluar dari kabupaten ini.

Pertanyaannya bukan lagi soal siapa membeli dengan harga tertinggi.

Tapi:
Apakah pemerintah daerah siap melihat wilayahnya hanya menjadi sumber bahan baku, sementara nilai ekonominya tumbuh di luar kabupaten?

Menjaga ekonomi daerah bukan berarti menutup arus perdagangan.

Tapi memastikan bahwa hasil bumi tidak hanya dipanen di sini—melainkan juga diolah, bernilai, dan menghidupi banyak masyarakat di sini.

Kalau tidak, kita akan terus panen…
tapi tidak pernah benar-benar sejahtera. ***

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS